BERITATERKININEWS.COM- Siang itu, Selasa (17/3/2026), halaman Gereja Katolik Paroki Santo Yohanes Penginjil Masohi tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang pulang bagi cerita-cerita tentang perempuan, tentang perjuangan, dan tentang harapan yang terus dijaga.
Angin siang berembus pelan. Didalam ruangan, suara percakapan terdengar hangat akrab seperti orang basudara baku dapa. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat. Semua duduk dalam lingkaran yang sama, berbagi kisah yang sederhana, namun sarat makna.
Di tengah suasana itu, hadir Betty Epsilon Idroos. Namanya mungkin lebih dulu dikenal dari ruang-ruang besar dari panggung nasional, dari kerja-kerja kepemiluan bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU), dari dinamika demokrasi yang kerap menuntut ketegasan sekaligus ketulusan. Ia juga dikenal sebagai istri Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir.
Namun siang itu di Masohi, Betty bukan tentang jabatan. Ia adalah tentang perjalanan.Tentang bagaimana seorang perempuan melangkah dari ruang ke ruang, dari pengalaman ke pengalaman, membentuk dirinya menjadi sosok yang hari ini berdiri tidak hanya sebagai bagian dari sistem, tetapi sebagai suara yang menguatkan banyak perempuan lain.
Ia bercerita dengan cara yang sederhana. Tidak menggurui. Tidak berjarak. Sesekali terselip senyum, sesekali nada suaranya menguat, seakan menegaskan bahwa apa yang ia sampaikan bukan sekadar kata-kata, melainkan hasil dari perjalanan panjang yang ia jalani.
“Perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa, terutama dalam membangun kepedulian dan kebersamaan,” ucapnya pelan.
Kalimat itu terdengar ringan. Namun bagi mereka yang mendengar, ada kedalaman di dalamnya. Sebab Betty tahu betul, menjadi perempuan di ruang publik bukan hal yang mudah. Ada tantangan, ada keraguan, ada batas-batas yang kadang tak terlihat namun terasa nyata. Dalam kerja-kerja demokrasi, ia menyaksikan sendiri bagaimana perempuan sering kali hadir, tetapi belum selalu diberi ruang yang setara.
Dari pengalaman itulah, ia memahami bahwa demokrasi tidak cukup hanya prosedural. Demokrasi harus hidup dan kehidupan itu salah satunya datang dari partisipasi perempuan.
KPU, dalam berbagai upaya, terus mendorong keterlibatan perempuan. Bukan hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai penyelenggara dan pengambil keputusan. Namun di lapangan, Betty melihat bahwa dorongan itu perlu disambut dengan keberanian dari perempuan sendiri keberanian untuk hadir, untuk bersuara, dan untuk mengambil peran.
“Kalau bukan kita yang percaya pada diri sendiri, siapa lagi,” katanya, setengah bertanya, setengah menguatkan. Sebagai pendamping kepala daerah di Maluku Tengah, Betty menjalani peran lain yang tidak kalah penting. Ia berada di antara kebijakan dan realitas. Ia melihat bagaimana program-program pemerintah bertemu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di situlah ia menemukan satu hal, perempuan adalah jembatan. Mereka yang menjaga keluarga tetap kuat di tengah tekanan ekonomi. Mereka yang memastikan nilai-nilai tetap hidup di tengah perubahan zaman. Mereka pula yang diam-diam menjadi penggerak di komunitas mengorganisir, merawat, dan menguatkan.
Di Maluku, semua itu tidak berdiri sendiri. Ada nilai pela gandong, ada hidup orang basudara sebuah filosofi yang mengajarkan bahwa hidup adalah tentang saling menjaga.
Dan dalam nilai itu, perempuan punya tempat yang istimewa. Mereka bukan hanya penjaga rumah, tetapi juga penjaga harmoni sosial. Mereka yang merawat hubungan, yang menenangkan konflik, yang memastikan bahwa kebersamaan tetap terjaga.
“Di situasi apa pun, perempuan harus tetap hadir sebagai sumber inspirasi,” ujar Betty lagi.
Di hadapannya, para anggota Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang St. Maria Goreti Maluku Tengah mendengarkan dengan saksama. Bagi mereka, apa yang disampaikan Betty bukan hal yang jauh. Itu adalah kehidupan mereka sendiri.
Dalam keseharian yang mungkin tak selalu terlihat, mereka sudah menjalankan peran itu menguatkan keluarga, melayani komunitas, dan menjaga nilai-nilai kehidupan bersama.
Pertemuan siang itu perlahan berubah menjadi lebih dari sekadar diskusi. Ia menjadi ruang refleksi. Ruang di mana setiap orang melihat kembali perannya, menyadari kekuatannya, dan menemukan kembali semangat untuk terus melangkah.
Waktu berjalan tanpa terasa. Menjelang akhir pertemuan, tak ada yang benar-benar ingin beranjak. Percakapan masih menggantung, tawa masih tersisa, dan suasana hangat itu seolah ingin dipertahankan lebih lama.
Ucapan terima kasih disampaikan dengan tulus. Bukan karena formalitas, tetapi karena ada sesuatu yang benar-benar sampai sesuatu yang tinggal.
Dari Masohi, pesan itu kemudian berjalan pelan, mengikuti langkah setiap perempuan yang hadir hari itu. Bahwa mereka penting. Bahwa mereka punya peran. Bahwa dalam sunyi kerja-kerja mereka, ada perubahan yang sedang tumbuh.
Dan seperti biasa di tanah Maluku, perubahan itu tidak selalu datang dengan suara besar. Ia lahir dari hal-hal sederhana dari kepedulian kecil, dari kasih yang dijaga, dari orang basudara yang tetap memilih untuk saling menguatkan.
Diterbitkan: 18 Maret 2026 pukul 04:58
Terakhir diperbarui: 18 Maret 2026 pukul 05:08
















