BERITATERKININEWS.COM- Proyeksi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional pasca 31 Maret 2026 mulai memicu keresahan di daerah. Di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), para sopir pangkalan taxi rute Masohi-Kairatu mengaku cemas jika wacana kenaikan itu benar-benar terealisasi pada April mendatang.
Berdasarkan proyeksi yang beredar luas, harga BBM diperkirakan mengalami lonjakan signifikan. Jenis Pertalite yang saat ini berada di kisaran Rp 10.000 per liter diproyeksikan naik menjadi Rp 14.000 per liter. Bio Solar dari Rp6.800 menjadi Rp9.500 per liter, sementara Pertamax dari Rp 13.000 menjadi Rp 16.500 per liter.
Kenaikan tersebut disebut-sebut dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang menyentuh kisaran 100 dolar AS per barel serta tekanan defisit APBN yang mendekati 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Bagi para sopir angkutan umum di Malteng, angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan ancaman langsung terhadap keberlangsungan usaha mereka.
Valen Sapuri, sopir Pangkalan Taxi Bambu Kuning Masohi, mengaku bersama rekan-rekannya kini intens membahas isu kenaikan BBM tersebut. Menurutnya, jika harga Pertalite benar-benar naik Rp.14.000 per liter, maka beban operasional sopir otomatis melonjak drastis.
“Kalau benar naik sampai Rp 14.000 per liter, jelas kami sangat terbebani. kami terpaksa naikan ongkos, tapi masyarakat juga pasti keberatan,” ujar Valen Senin (30/3/2026).
Ia menegaskan, rute Masohi–Kairatu merupakan jalur vital yang menopang mobilitas warga, baik untuk aktivitas perdagangan, pendidikan, maupun kebutuhan keluarga. Kenaikan tarif transportasi dikhawatirkan akan berdampak berantai pada harga barang dan jasa.
“Kami dilema, tidak naikkan tarif, kami rugi. Naikkan tarif, penumpang berkurang. Jadi sama-sama susah,” katanya.
Sejumlah sopir lainnya juga menyampaikan keluhan serupa. Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat mempertimbangkan dampak sosial sebelum mengambil keputusan final terkait penyesuaian harga BBM.
Menurut para sopir, sektor transportasi darat di daerah seperti Malteng sangat bergantung pada BBM subsidi. Berbeda dengan kota besar yang memiliki pilihan transportasi alternatif, masyarakat di wilayah kepulauan dan jalur antarkecamatan masih sangat bergantung pada angkutan darat konvensional.
Salah satu pengamat ekonomi lokal yang enggan disebutkan namanya menilai, jika proyeksi tersebut terealisasi tanpa skema mitigasi yang jelas, maka tekanan inflasi di daerah bisa meningkat. Biaya distribusi barang akan terdorong naik, yang pada akhirnya membebani daya beli masyarakat.
“Efek domino dari kenaikan BBM selalu cepat terasa di daerah. Apalagi jika kenaikannya signifikan seperti yang diproyeksikan. Pemerintah perlu menyiapkan bantalan sosial atau subsidi tepat sasaran,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pengumuman resmi dari pemerintah terkait penyesuaian harga BBM per April 2026. Namun, wacana yang telah beredar luas di media sosial itu sudah lebih dulu memicu kegelisahan di kalangan sopir dan masyarakat.
Di tengah ketidakpastian tersebut, para sopir di Masohi berharap ada kepastian dan kejelasan kebijakan. Mereka meminta agar setiap keputusan yang diambil benar-benar mempertimbangkan kondisi ekonomi rakyat kecil di daerah.
“Kami cuma minta kebijakan yang adil. Jangan sampai kami yang di bawah ini yang paling merasakan dampaknya,” tutup Valen.
Diterbitkan: 30 Maret 2026 pukul 11:28
Terakhir diperbarui: 30 Maret 2026 pukul 11:31
















