BERITATERKININEWS.COM- Malam itu, langit Seram Utara Barat terasa lebih hening dari biasanya. Di sejumlah negeri dan dusun, cahaya lilin-lilin kecil menyala perlahan, mengusir gelap sekaligus menandai kemenangan terang atas kegelapan. Ratusan umat Kristiani larut dalam doa dan kidung pujian Paskah, Sabtu (4/4/2026), hingga waktu bergeser mendekati subuh.
Di antara bangku-bangku gereja yang terisi penuh, ada rasa haru yang tak terucap. Anak-anak duduk di samping orang tua mereka, kaum ibu mengenakan busana terbaik, sementara para pelayan gereja berdiri dengan wajah teduh memimpin liturgi malam kebangkitan. Di luar, beberapa personel polisi berdiri siaga. Diam, namun penuh makna.
Di wilayah hukum Polsek Pasanea, sedikitnya sepuluh gereja menggelar ibadah malam Paskah dengan jumlah jemaat antara 50 hingga 200 orang. Di Gereja Anugerah Negeri Labuan, sekitar 200 jemaat memenuhi ruangan, mengikuti ibadah yang dipimpin Pendeta Sinthia Pesulima/Pariama. Sementara di Gereja Ebenhaezer Negeri Warasiwa dan Gereja Bethel Negeri Rumahwey, ratusan jemaat lainnya mengangkat doa dalam suasana khidmat.
Namun Paskah tahun ini bukan hanya tentang ritual keagamaan. Ia menjadi potret tentang bagaimana kebersamaan dan toleransi dirawat dengan sederhana — melalui doa, melalui kehadiran, dan melalui rasa saling menjaga.
Sejak pukul 19.00 WIT, personel Polsek Pasanea telah menempati titik-titik pengamanan. Ada yang berjaga di pintu masuk gereja, ada yang berpatroli di sekitar lokasi ibadah, terutama di Negeri Karlutu dan kawasan Trans SP I yang sebagian ibadahnya digelar di halaman gereja karena keterbatasan ruang.
Kehadiran aparat bukan untuk menciptakan jarak, melainkan memberi rasa aman.
Kapolsek Pasanea, IPDA Galip Rumpay, menyebut pengamanan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab sekaligus panggilan pelayanan.
“Pengamanan ini adalah wujud kehadiran negara melalui Polri untuk memastikan umat Kristiani dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk. Kami ingin seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga selesai,” ujarnya.
Baginya, keamanan bukan sekadar prosedur tetap atau penempatan personel. Lebih dari itu, keamanan adalah rasa percaya yang tumbuh antara masyarakat dan aparat.
Sepanjang malam hingga dini hari, situasi tetap terkendali. Tidak ada gangguan berarti. Jemaat keluar masuk gereja dengan tertib. Anak-anak yang mulai mengantuk digendong orang tua mereka, sementara para petugas tetap berdiri hingga ibadah selesai.
Di Gereja Katolik Stasi Labuan, di Gereja Silo Dusun Rumahmole Negeri Latea, hingga Gereja Sumber Kasih Negeri Latea, suasana serupa terasa: doa-doa dipanjatkan, nyanyian dilantunkan, dan malam dijalani dengan damai.
Kapolsek Galip Rumpay menilai, situasi kondusif itu lahir bukan semata karena pengamanan, melainkan karena kesadaran kolektif masyarakat.
“Kami memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat yang bersama-sama menjaga situasi tetap damai. Toleransi antarumat beragama di Seram Utara Barat tetap terpelihara dengan baik. Ini adalah modal sosial yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Di Maluku, tanah yang pernah merasakan getirnya konflik, setiap perayaan damai memiliki makna yang lebih dalam. Paskah bukan sekadar peringatan kebangkitan Kristus, tetapi juga pengingat bahwa harapan selalu mungkin tumbuh, bahkan dari sejarah yang pernah terluka.
Malam itu, polisi dan masyarakat berdiri pada posisi yang sama: menjaga agar terang tetap menyala. Tidak ada sekat, tidak ada kecurigaan. Yang ada hanya komitmen bersama untuk merawat harmoni.
Saat lonceng gereja berbunyi menandai berakhirnya ibadah, sebagian jemaat masih berbincang di halaman. Udara dini hari terasa sejuk. Di sudut-sudut halaman, personel polisi masih berjaga, memastikan seluruh rangkaian kegiatan benar-benar selesai dengan aman.
“Keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat saling menghargai dan menjaga toleransi, maka stabilitas akan tercipta secara alami,” pungkas Kapolsek.
Paskah 2026 di Pasanea pun berlalu tanpa insiden. Namun yang tertinggal bukan sekadar catatan keamanan. Yang tinggal adalah rasa percaya bahwa di tengah keberagaman, damai bisa dijaga bersama.
Di bawah cahaya lilin-lilin kecil itu, Seram Utara Barat kembali belajar bahwa kebangkitan tidak hanya terjadi di altar gereja, tetapi juga dalam sikap saling melindungi dan menghormati satu sama lain.
Diterbitkan: 06 April 2026 pukul 14:10
Terakhir diperbarui: 06 April 2026 pukul 14:14
















