BERITATERKININEWS.COM- Sepekan telah berlalu sejak Tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala digelar pada 7 Syawal 1447 Hijriah atau Sabtu (28/3/2026). Namun gaungnya masih terasa kuat di tengah masyarakat. Ritual adat yang sarat makna tersebut bukan hanya menjadi peristiwa tahunan, melainkan penegasan identitas budaya dan simbol kokohnya persaudaraan orang Maluku.
Dinegeri Mamala menyimpan sejarah panjang, prosesi adat itu kembali berlangsung khidmat dan penuh semangat. Tradisi turun-temurun ini kembali menyedot perhatian warga, tokoh adat, hingga tamu undangan yang hadir menyaksikan langsung ritual yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri masyarakat setempat.
Lebih dari sekadar atraksi budaya, Pukul Sapu adalah simbol keberanian, ketangguhan, serta solidaritas antar-anak negeri. Setiap ayunan sapu lidi yang mengenai tubuh peserta bukanlah ekspresi kekerasan, melainkan bentuk pengujian diri dan penguatan ikatan persaudaraan.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, yang hadir langsung dalam prosesi tersebut, menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai fondasi karakter masyarakat.
“Pukul Sapu bukan sekadar ritual fisik. Ini adalah simbol karakter orang Maluku yang berani, tangguh, dan menjunjung tinggi persaudaraan. Tradisi ini mengajarkan bahwa keberanian harus dibingkai dengan adat dan kebersamaan,” tegas Bupati saat itu.
Menurutnya, nilai yang terkandung dalam tradisi ini jauh lebih besar dibanding sekadar ketahanan fisik. Luka yang muncul dalam prosesi bukan simbol permusuhan, melainkan bentuk pembuktian diri sekaligus penguatan solidaritas sosial.
“Yang kita lihat bukan soal siapa paling kuat. Ini tentang bagaimana adat dijunjung, persaudaraan dipererat, dan identitas budaya tetap berdiri kokoh di tengah arus zaman,” tambahnya.
Momentum Pukul Sapu tahun ini dinilai memiliki makna strategis di tengah dinamika sosial dan derasnya arus modernisasi. Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah memberikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Mamala dalam merawat tradisi leluhur.
Bupati menegaskan, pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga seremoni tahunan, tetapi juga menjaga harmoni sosial.
“Budaya adalah fondasi kebersamaan. Adat adalah perekat yang menjaga kita tetap satu sebagai orang basudara. Tradisi seperti ini harus terus dirawat dan diperkenalkan lebih luas sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah,” ujarnya.
Dalam konteks pembangunan daerah, keberadaan tradisi seperti Pukul Sapu menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak boleh menghapus akar budaya. Justru dari tradisi inilah karakter masyarakat dibangun. berani menghadapi ujian, ikhlas menerima konsekuensi, serta menjunjung tinggi perdamaian.
Sepekan pasca pelaksanaan, refleksi yang muncul menunjukkan bahwa Pukul Sapu bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah ruang pembelajaran sosial dan spiritual. Nilai ketangguhan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap adat menjadi pesan utama yang terus digaungkan.
Di Negeri Mamala, adat bukan cerita masa lalu yang tersimpan dalam ingatan kolektif. Ia hidup, berdenyut, dan diwariskan lintas generasi.
Luka fisik mungkin mengering dalam hitungan hari. Namun nilai persaudaraan yang ditanam melalui ritual ini diyakini akan terus tumbuh, menjadi energi sosial dalam membangun Maluku Tengah yang damai, berbudaya, dan bermartabat.
Sepekan telah berlalu, tetapi spirit Pukul Sapu Mamala tetap menggema menjadi pengingat bahwa identitas budaya adalah jangkar yang menjaga masyarakat tetap teguh di tengah perubahan zaman.
Diterbitkan: 29 Maret 2026 pukul 08:21
Terakhir diperbarui: 29 Maret 2026 pukul 08:24
















