Masohi,BERITATERKININEWS.COM- Pagi di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Kabupaten Maluku Tengah, tetap berjalan seperti biasa. Anak-anak berlarian menuju sekolah, suara tawa kecil memecah sunyi desa. Namun bagi El dan Tristan Aihery, pagi tak lagi sama sejak rumah mereka hangus dilalap api pada Jumat (20/2/2026).
Sejak peristiwa itu, keluarga Aihery harus menghadapi kehilangan tempat tinggal dan berbagai kebutuhan dasar. Hingga kini, belum terlihat adanya respons nyata dari pemerintah daerah. Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar, terutama di tengah berbagai program bantuan sosial dan penanggulangan bencana yang kerap digaungkan.
Di tengah beragam program yang disebut-sebut hadir untuk masyarakat terdampak musibah, keluarga korban justru merasa berjalan sendiri menghadapi dampak kebakaran. Tidak hanya kehilangan bangunan fisik, mereka juga menghadapi tekanan psikologis, terutama bagi anak-anak yang masih berada pada usia rentan.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius tentang sejauh mana respons cepat pemerintah daerah terhadap warga terdampak bencana. Kebakaran rumah tinggal bukan sekadar persoalan material, tetapi menyangkut keselamatan, kondisi psikologis anak, serta hak dasar atas tempat tinggal yang layak. Tanpa penanganan cepat, dampaknya bisa berkepanjangan.
Di tengah keterbatasan itu, hadir satu sosok yang setiap hari menyambut El dan Tristan dengan pelukan hangat dan senyum penguat Ibu Kety Nifaan, Kepala Sekolah TK Pembina 1 Trana.
Bagi Kety, El dan Tristan bukan sekadar murid. Mereka adalah anak-anak yang setiap hari ia ajar, dampingi, dan tumbuhkan keberaniannya di ruang kelas sederhana. Ketika kabar kebakaran sampai di telinganya, ia mengaku sangat terpukul.
“Beta kaget sekali dengar rumah dong terbakar. Sebagai guru, beta langsung pikir bagaimana kondisi anak-anak. Dong pasti trauma, pasti sedih,” ujar Kety dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai pendidik, ia merasakan kepedihan yang sama. Di kelas, ia melihat perubahan kecil yang mungkin tak disadari banyak orang. tatapan yang lebih diam, senyum yang sedikit dipaksakan, serta pakaian yang tak lagi lengkap seperti biasanya.
Namun yang membuatnya terharu, kedua bocah itu tetap datang ke sekolah.
“Dong datang seperti biasa. Pakai baju seadanya, tanpa buku. Tapi dong tetap duduk rapi, ikut bernyanyi, ikut belajar. Beta bangga sekali,” tuturnya.
Di ruang kelas itu, Kety memastikan sekolah tetap menjadi tempat paling aman bagi mereka. Ia menguatkan, memeluk, dan memberi ruang agar El dan Tristan tetap merasa sebagai anak-anak, bukan sekadar korban bencana.
“Beta bilang ke dong, di sekolah ini katong semua keluarga. Kalau ada kesulitan, katong hadapi sama-sama,” katanya.
Sebagai kepala sekolah TK Pembina 1 Trana, Kety juga bergerak cepat berkoordinasi dengan jajaran pendidikan di Kabupaten Maluku Tengah. Bantuan awal berhasil dihimpun untuk membantu kebutuhan sekolah El dan Tristan, seperti seragam, alat tulis, dan perlengkapan dasar lainnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa bantuan sekolah saja tidak cukup. Pemulihan menyeluruh tetap membutuhkan peran aktif pemerintah daerah dan dukungan lintas sektor.
“Anak-anak ini butuh rasa aman. Bukan cuma soal buku dan seragam, tapi tempat tinggal yang layak supaya dong bisa tumbuh dengan baik. Pendidikan akan sulit maksimal kalau kondisi rumah tidak mendukung,” tegasnya.
Sebagai guru taman kanak-kanak, Kety memahami bahwa usia dini adalah masa pembentukan karakter dan rasa percaya diri. Trauma dan ketidakpastian bisa meninggalkan dampak jangka panjang jika tidak segera ditangani secara komprehensif.
“Katong di sekolah hanya bisa menguatkan secara moral dan pendidikan. Tapi untuk pemulihan penuh, tentu perlu perhatian dari berbagai pihak,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan belum jelasnya tindak lanjut dari pemerintah daerah, Kety tetap berdiri di garis depan mengajar, membimbing, sekaligus menjadi sandaran emosional bagi murid-muridnya.
Baginya, tugas guru bukan sekadar menyampaikan huruf dan angka, tetapi menjaga mimpi anak-anak agar tidak padam oleh keadaan.
“Beta percaya, selama anak-anak masih mau sekolah, harapan itu masih ada. Tugas katong orang dewasa adalah memastikan harapan itu jangan sampai mati,” tutup Kety.
Di balik kebakaran yang menghanguskan rumah keluarga Aihery, tersimpan kisah tentang keteguhan seorang guru. Namun di saat yang sama, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa kehadiran negara dalam situasi darurat bukanlah pilihan, melainkan kewajiban.
Sebab di ruang kelas sederhana TK Pembina 1 Trana, Ibu Kety Nifaan sedang menjaga asa dua bocah kecil tetap menyala. sementara harapan akan respons nyata dari pemerintah daerah masih terus dinantikan.
Diterbitkan: 28 Februari 2026 pukul 07:39
Terakhir diperbarui: 28 Februari 2026 pukul 11:20
















