BERITATERKININEWS.COM- Jauh di pedalaman Pulau Seram, tepatnya di Desa Neniari, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, masyarakat hidup di tengah alam yang subur dan hijau. Namun, kesuburan tanah berbanding terbalik dengan kondisi infrastruktur. Jalan menuju desa masih memprihatinkan, berlumpur saat hujan dan berdebu saat kemarau.
Ironisnya, tantangan terbesar warga bukanlah hutan lebat atau medan pegunungan, melainkan akses jalan yang belum layak. Di tengah keterbatasan itu, muncul sosok muda yang menjadi motor penggerak perubahan, Jodis Rumasoal.
Alih-alih menunggu bantuan, Jodis memilih membangun dari bawah. Ia menggalang kekuatan masyarakat, membentuk kelompok tani, dan menyatukan visi untuk mengubah hutan produktif menjadi lumbung pangan.
“Ketahanan pangan itu hak masyarakat. Kalau kita terus menunggu, sampai kapan? Jadi kita mulai saja dari apa yang kita punya,” tegas Jodis kepada media ini.
Gerakan ini tidak kecil. Total 101 hektar lahan disiapkan untuk penanaman padi gogo dan jagung hibrida sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan lokal sekaligus mendukung program nasional.
Tak hanya itu, komoditas pangan lokal seperti keladi, kasbi, labu, labu siam, wortel, kol, bawang merah hingga tanaman hortikultura lainnya ikut dikembangkan.
Menurut Jodis, konsep yang dibangun bukan sekadar pertanian musiman, melainkan menghidupkan kembali filosofi leluhur tentang lumbung pangan desa.
“Padi dan jagung ini bukan hanya komoditas. Ini simbol kemandirian dan warisan. Kalau desa kuat pangannya, ekonomi pasti ikut bergerak,” ujarnya.
Gerakan pangan ini tidak berdiri sendiri. Di bawah koordinasinya, lahan di sejumlah desa ikut diberdayakan, 4 hektar di Desa Riring, 2 hektar di Desa Uweth, 2 hektar di Desa Buria, 10 hektar di Desa Neniari Piru, 2 hektar di Desa Taniwel.
Bersama Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Barat, dibentuk 10 kelompok tani di wilayah Taniwel, Taniwel Timur dan sekitarnya.
Di Desa Neniari Gunung sendiri, 10 kelompok tani kini mengelola 15 hektar lahan yang siap panen.
Data yang dihimpun beritaterkininews.com menunjukkan, dari target 101 hektar, sekitar 20 hektar telah dikelola kelompok tani, sementara lebih dari 60 hektar dikerjakan langsung oleh organisasi masyarakat dan keluarga-keluarga desa secara gotong royong.
Jodis juga aktif membangun komunikasi lintas sektor. Ia berdiskusi dengan Ketua Tani SBB, Mansyur Tuharea, spesialis pupuk kompos Rita Tuharea, hingga Kepala Dinas Pertanian SBB, Ibrahim Tuharea.
Pemerintah Kabupaten SBB dan Pemerintah Provinsi Maluku, menurutnya, telah merespons positif dengan rencana dukungan mesin penggilingan padi, mesin pemecah jagung, serta bantuan pupuk dan peralatan pertanian.
“Kami optimistis jika sinergi APBN, APBD, dan APBDes yang 20 persen dialokasikan untuk ketahanan pangan bisa dikawal serius, desa-desa pegunungan Seram akan mandiri,” kata Jodis.
Namun di balik geliat pangan ini, persoalan infrastruktur belum tersentuh maksimal. Akses jalan yang belum memadai berpotensi menghambat distribusi hasil panen ke pasar.
Jika 101 hektar benar-benar produktif, pertanyaan berikutnya,
Apakah pemerintah siap menjamin akses distribusi dan stabilitas harga? Ketahanan pangan bukan hanya soal tanam dan panen, tetapi juga rantai pasok dan keberpihakan kebijakan.
Masyarakat Neniari kini membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk stagnan. Mereka bergerak lebih cepat dari pembangunan infrastruktur yang seharusnya menopang mereka.
Bagi Jodis, perjuangan ini bukan proyek sesaat. “Ini bukan untuk hari ini saja. Ini untuk anak cucu. Kita mau pegunungan Seram jadi kuat, tidak tergantung dari luar,” tutupnya.
Di tengah jalan rusak dan keterisolasian, Desa Neniari mengirim pesan kuat, ketahanan pangan bisa tumbuh dari desa, jika ada keberanian memulai.
Diterbitkan: 15 Februari 2026 pukul 17:08
Terakhir diperbarui: 15 Februari 2026 pukul 17:11
















