BERITATERKININEWS.COM- Ketegangan mendadak menyelimuti Desa Alang Saude, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Aksi pembakaran empat unit sepeda motor milik warga oleh orang tak dikenal (OTK), Selasa dini hari (10/2/2026) sekitar pukul 03.50 WIT, berubah menjadi pemicu kemarahan massal yang melumpuhkan jalur vital Trans Seram selama berjam-jam.
Peristiwa di kawasan Kayu Putih itu bukan sekadar tindak kriminal biasa. Api yang melahap kendaraan warga memantik kecurigaan dan spekulasi di tengah masyarakat. Sejumlah warga menduga pembakaran dilakukan secara sengaja dan terencana.
Tak butuh waktu lama, emosi warga meledak. Jalan utama penghubung Waisala–Piru dipalang total.
Akibatnya, arus lalu lintas lumpuh sekitar tujuh jam. Aktivitas ekonomi, distribusi barang, hingga perjalanan warga antarwilayah terhenti.
Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan desa ketika satu insiden kriminal tidak segera terungkap.
“Kami kaget. Empat motor dibakar dini hari. Warga marah dan kecewa, sehingga spontan melakukan pemalangan jalan,” kata Kepala Desa Alang Saude, Vlanius O. Patty.
Blokade dimulai pukul 07.00 WIT hingga 14.00 WIT. Sejumlah warga bahkan menolak membuka akses sebelum pelaku ditangkap dan kerugian diganti.
“Pelaku harus ditangkap. Motor harus diganti. Kalau tidak, jalan tetap ditutup,” tegas salah satu warga dengan nada keras.
Meski polisi belum mengungkap motif, pembakaran dini hari dengan sasaran spesifik memunculkan dugaan kuat bahwa aksi ini bukan kebetulan.
Sejumlah tokoh masyarakat menyebut, insiden tersebut bisa saja berkaitan dengan persoalan pribadi, perselisihan lama, atau upaya provokasi yang sengaja memancing keributan.
Jika benar, aksi ini dinilai berpotensi menyeret konflik lebih luas.
“Kalau pelaku tidak cepat ditemukan, warga mudah terprovokasi. Bisa timbul saling curiga,” ujar seorang tokoh pemuda setempat.
Kondisi geografis Huamual Belakang yang relatif terpencil serta akses komunikasi terbatas membuat isu cepat menyebar tanpa klarifikasi, sehingga memperbesar risiko gesekan sosial.
Situasi yang mulai memanas memaksa aparat bergerak cepat.
Puluhan personel Polres SBB diterjunkan ke lokasi, dipimpin Wakapolres Kompol Beny Kurniawan, didampingi Kasat Reskrim AKP Idris Mukadar dan Kasat Intel Muhammad Jayadi.
Petugas melakukan negosiasi persuasif sekaligus membuka blokade di sejumlah titik.
“Kita sudah buka akses jalan yang ditutup warga. Sekarang kendaraan sudah bisa melintas dari Waisala ke Piru maupun sebaliknya,” ujar Beny.
Ia menegaskan, protes warga dapat dipahami, namun penutupan jalan nasional tidak dibenarkan.
“Silakan menyampaikan aspirasi, tapi jangan mengganggu fasilitas publik. Itu merugikan masyarakat luas,” tegasnya.
Hingga kini, pelaku pembakaran masih diburu. Polisi meningkatkan patroli dan pemantauan guna mencegah gejolak susulan.
Peristiwa ini menjadi alarm serius bagi keamanan Huamual Belakang. Satu aksi kriminal di dini hari terbukti mampu memicu kemarahan massal, melumpuhkan transportasi, dan mengancam stabilitas sosial dalam hitungan jam.
Jika tidak segera diungkap, bukan tidak mungkin kejadian serupa kembali terulang.
Karena bagi mereka, api yang membakar motor bukan sekadar kerugian materi, tetapi simbol ancaman terhadap ketenangan desa.
Diterbitkan: 10 Februari 2026 pukul 10:14
Terakhir diperbarui: 10 Februari 2026 pukul 10:19
















