BERITATERKININEWS.COM- Isu dugaan pungutan liar (pungli) sebesar Rp3.000.000 yang menyeret institusi TNI di wilayah Kodim 1506/Namlea menuai bantahan keras. Alih-alih mendapat kecaman, keberadaan aparat justru dibela oleh kalangan pemuda dan penambang yang menyebut tudingan tersebut sebagai fitnah yang berpotensi memecah belah hubungan TNI dan masyarakat di Kabupaten Buru.
Tudingan yang mencuat melalui pemberitaan salah satu media itu dinilai tidak berdasar dan sarat kepentingan. Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Buru, M. Idrus Barges, SE, secara terbuka angkat suara dan meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut Barges, narasi yang menyudutkan TNI bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya karena berpotensi merusak hubungan harmonis yang selama ini telah terbangun antara aparat dan masyarakat penambang.
“Apa yang dituduhkan itu sama sekali tidak benar dan murni fitnah. Ini bukan sekadar isu biasa, tetapi bisa menjadi provokasi yang sengaja dimainkan untuk memecah belah TNI dan masyarakat,” tegas Barges kepada media ini Senin (23/3/2026).
Ia menekankan, kehadiran personel TNI di sejumlah titik pengamanan area tambang bukan untuk kepentingan lain, melainkan demi menjaga stabilitas keamanan di lokasi yang selama ini rawan konflik.
“Kita tahu bersama, aktivitas tambang sering memicu gesekan bahkan konflik berdarah antar penambang. Kehadiran TNI justru untuk mempersempit ruang konflik itu, agar tidak berkembang menjadi anarkis,” jelasnya.
Barges juga mengingatkan publik agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Ia menilai pemberitaan yang tidak berimbang hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Jangan sampai opini dibangun tanpa fakta. Kalau tidak ada bukti otentik, maka tudingan seperti ini sangat merugikan dan mencederai kepercayaan publik,” ujarnya.
Di sisi lain, suara dari lapangan justru berbanding terbalik dengan tudingan yang beredar. Sejumlah penambang mengaku merasa lebih aman dan nyaman bekerja sejak adanya pengawasan dari aparat TNI di lokasi tambang.
Salah satu penambang yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan keheranannya terhadap isu pungli tersebut.
“Kami justru merasa lebih aman bekerja karena ada TNI. Mereka hadir untuk menjaga, bukan memungut. Kalau tidak ada pengamanan, potensi konflik di lapangan itu sangat besar,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan aparat terbukti efektif meredam ketegangan horizontal yang kerap muncul di area pertambangan.
“Kami minta Pangdam XV/Pattimura dan Dandim 1506/Namlea tetap konsisten mengawal aktivitas di tambang. Jangan terprovokasi dengan isu-isu yang ingin memecah belah kami dengan TNI,” tegasnya.
Menanggapi pemberitaan yang dinilai tidak berimbang, Barges juga mendesak agar ada langkah klarifikasi resmi guna meluruskan informasi yang telah terlanjur beredar luas.
“Kami berharap Dandim 1506/Namlea dapat memanggil pihak yang membuat pemberitaan tersebut untuk memberikan klarifikasi. Pers harus bekerja berdasarkan fakta, bukan asumsi yang meresahkan masyarakat,” pungkas Barges.
Diterbitkan: 23 Maret 2026 pukul 08:00
Terakhir diperbarui: 23 Maret 2026 pukul 08:10
















